Showing posts with label Hewan. Show all posts
Showing posts with label Hewan. Show all posts
Friday, September 6, 2013
Saturday, June 29, 2013
1:45:00 PM
Aybsth
Hewan
No comments
Pada caput (kepala)
terdapat ostrum (paruh) terbentuk dari maxilla pada ruang atas dan mandibula
pada ruang bawah. Bagian dalam paruh dilapisi oleh lapisan yang disebut cera,
sedangkan sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat tanduk. Paruh
burung berfungsi sebagai tangan untuk mendapatkan pakan, maupun membuat sarang,
merapikan bulu-bulunya, membela diri dan lain-lain. Ketika merapikan bulunya,
paruh mengolesinya dengan minyak yang berasal dari kelenjar minyak di dasar
ekor, hingga bulu tetap dalam keadaan baik. Fungsi lain minyak adalah untuk
mencegah lapisan paruh tidak rapuh. Nares (lubang hidung), terdapat dibagian
lateral dari paruh bagian atas naresinterna pada sebelah dalam dan nares
eksterna terletak disebelah luar.
Organon visus (alat
penglihatan), pada unggas ayam mata relatif besar dan terletak dibagian lateral
pada kepala dengan kelopak mata yang berbulu. Iris berwarna kuning sedangkan
pupil dibandingakan dengan mata relatif besar pada sudut medila mata terdapat
membran nictitans yang dapat ditarik menutupi mata.
Truncus pada columba
livia dibungkus oleh kulit yang seakan-akan tidak melekat pada otot. Dari kulit
akan muncul bulu dari hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan,
fleksibel, dan berguna sebagai pembungkus tubuh yang sangat resisten. Pada
uropygium berpangkal bulu-bulu ekor, sedangkan pada facies dorsalis uropygium
terdapat papila yang mempunyai lubang sebagai muara kelenjar minyak yang
nantinya akan berguna untuk melumasi bulu burung.
Extremitas terdapat dua
buah extremitas yaitu superior dan anterior: Extremitas superior berupa ala
(sayap) yang seluruhnya ditutupi oleh bulu, yang terlipat seperti huruf Z, pada saat tubuh tidak terbang. Extremitas
interior berupa kaki terdiri atas femur, patella, crus yang berupa fibula
pendek dan tibiotarsus yang merupakan persatuan daritulang tibia dan tarsilia.
Pes (tulang cakar) terdiri atas meta-tarsus dan digiti yang mempunyai ruas
phalanx (jari-jari). Pada ujung jari terdapat faculta yaitu kuku untuk
mencakar, empat jari itu ada tiga yang mengarah ke muka dan satu yang ke
belakang.
Pada cauda (ekor) burung
merpati memiliki bulu-bulu ekor yang berpangkal pada uropygium. Selama terbang
ekor berkerja sebagai kemudi di udara, ekor juga berperan sebagai rem. Untuk
menyokong fungsi ekor ini, oleh Karena itu bulu-bulu ekor disokong oleh tulang
vertebra terminal yang bersatu disebut pygostyle. Ketika bertenger ekor
berfungsi sebagai alat keseimbangan. Pada beberapa burung jantan tertentu
ekornya yang indah berfungsi sebagai karakter seksual sekunder.
Musculus pectoralis
Mulai dari daerah dada,
menuju kloaka dan rostum, akan terlihat otot-otot, sebagai berikut: Tendo
musculus pectoralis major, musculus pectoralismajor yang terdiri dari origo
(carina sterni), insertion (facies ventralis humeri), berfungsi untuk menutup
sayap. Tendo musculus pectoralis minor, musculus pectoralis minor, carina
sterni, scapula, furcula dan musculus belum dibuka, sehingga tidak dapat
melihat bagian dalam penyusun musculus pectoralis minor.
1:32:00 PM
Aybsth
Hewan
No comments
Alat
pengeluaran pada burung berupa pari-pari, hati, ginjal, dan kulit, ginjal,
saluran kelamin, dan saluran pencernaan bermuara pada sebuha lubang yang
disebut kloaka. Burung menghasilkan kelenjar minyak yang terdapat pada ujung
ekornya. kelenjar ini menghasilkan minyak untuk membasahi bulu-bulunya.
Alat
ekskresi berupa ren yang relative besar, berwarna merah coklat, tertutup oleh peritoneum
(retroperitonial). Tiap-tiap ren terbagi atas 4 lobi. Dari dataran ren sebelah
ventral keluar ureter yang sempit menuju ke caudal dan berahir pada cloaca
(Jasin, 1984). Darah yang berasal dari arteri renalis akan disaring secara
filtratis. Zat-zat yang tidak berguna dalam darah terutama berupa ureum akan
dibuang dalam proses filtrasi ini (Jasin, 1984)
Sistem
pernapasan pada hewan menyusui dan burung merpati sangat berbeda, pada burung,
aliran udara cuma satu arah. Udara baru datang pada ujung yang satu, dan udara
yang telah digunakan keluar melalui lubang lainnya. Hal ini memberikan
persediaan oksigen yang terus-menerus bagi burung, yang memenuhi kebutuhannya
akan tingkat energi yang tinggi.
Dalam
hal burung, bronkhus (cabang batang tenggorokan yang menuju paru-paru) utama terbelah
menjadi tabung-tabung yang sangat kecil yang tersebar pada jaringan paru-paru.
Bagian yang disebut parabronkhus ini akhirnya bergabung kembali, membentuk
sebuah sistem peredaran sesungguhnya sehingga udara mengalir dalam satu arah
melalui paru-paru. Meskipun kantung-kantung udara juga terbentuk pada kelompok
reptil tertentu, bentuk paru-paru burung dan keseluruhan fungsi sistem
pernapasannya sangat berbeda. Tidak ada paru-paru pada jenis hewan bertulang
belakang lain yang dikenal, yang mendekati sistem pada unggas dalam hal apa
pun.
Aliran
udara searah dalam paru-paru burung didukung oleh suatu sistem kantung udara.
Kantung-kantung ini mengumpulkan udara dan memompanya secara teratur ke dalam
paru-paru. Dengan cara ini, selalu ada udara segar dalam paru-paru. Sistem
pernafasan yang rumit seperti ini telah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan
burung akan jumlah oksigen yang tinggi. Semakin tinggi seekor burung terbang
maka semakin tipis/sedikit oksigen yang tersedia di udara maka paru-paru burung
harus dapat memasok sejumlah besar oksigen yang dibutuhkan untuk terbang.
Burung
memiliki alat pernapasan berupa paru-paru dan kantong-kantong udara berdinding
tipis yang terhubung dengan paru-parunya. Ketika kantong-kantong udara
digembungkan, tubuh burung sangat ringan. Kantong udara itu juga digunakan oleh
burung untuk mengambil oksigen sebanyak mungkin.
Pada
burung, tempat berdifusinya gas pernapasan hanya terjadi di paru-paru.
Paru-paru burung berjumlah sepasang dan terletak dalam rongga dada yang
dilindungi oleh tulang rusuk. Selain paru-paru, burung memiliki 8 atau 9
perluasan paru-paru atau kantung-kantung udara berselaput tipis (air sacs/sakus
pneumatikus) yang menyebar sampai ke perut, leher, dan sayap. Di
kantung-kantung udara (air sacs) tidak terjadi difusi gas pernapasan:
kantung-kantung udara hanya berfungsi sebagai penyimpan cadangan oksigen dan
meringankan tubuh. Karena adanya kantung-kantung udara maka pernapasan pada
burung menjadi efisien. Kantung-kantung udara terdapat di pangkal leher (servikal),
ruang dada bagian depan (toraks anterior), antara tulang selangka (korakoid),
ruang dada bagian belakang (toraks posterior), dan di rongga perut (kantong
udara abdominal).
Masuknya
udara yang kaya oksigen ke paru-paru (inspirasi) disebabkan adanya kontraksi
otot antar tulang rusuk (interkostal) sehingga tulang rusuk bergerak keluar dan
tulang dada bergerak ke bawah. Atau dengan kata lain, burung mengisap udara
dengan cara memperbesar rongga dadanya sehingga tekanan udara di dalam rongga
dada menjadi kecil yang mengakibatkan masuknya udara luar. Udara luar yang
masuk sebagian kecil tinggal di paru-paru dan sebagian besar akan diteruskan ke
kantung-kantung udara sebagai cadangan udara.
Mekanisme Pernapasan
Proses
pernapasan pada saat burung tidak terbang. Pada saat otot tulang rusuk
berkontaksi, tulang rusuk bergerak ke arah depan dan tulang dada bergerak ke
bawah. Rongga dada menjadi besar dan tekanannya menurun. Hal ini menyebabkan
udara yang kaya dengan oksigen masuk ke dalam paru-paru dan selanjutnya masuk
ke dalam kantung-kantung udara. Pada waktu otot tulang rusuk mengendur, tulang
rusak bergerak ke arah belakang dan tulang dada bergerak ke arah atas. Rongga
dada mengecil dan tekanannya menjadi besar, mengakibatkan udara keluar dari
paru-paru. Demikian juga udara dari kantung-kantung udara keluar melalui
paru-paru. Pengambilan oksigen oleh paru-paru terjadi pada waktu inspirasi dan
ekspirasi. Pertukaran gas hanya terjadi di dalam paru-paru.
Kantung Udara Pada Paru Paru
Merpati
Udara
pada kantung-kantung udara dimanfaatkan hanya pada saat udara di paru-paru
berkurang, yakni saat burung sedang mengepakkan sayapnya. Saat sayap mengepak
atau diangkat ke atas maka kantung udara di tulang korakoid terjepit sehingga
oksigen pada tempat itu masuk ke paru-paru. Sebaliknya, ekspirasi terjadi
apabila otot interkostal relaksasi maka tulang rusuk dan tulang dada kembali ke
posisi semula, sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar
dari tekanan di udara luar akibatnya udara dari paru-paru yang kaya karbon
dioksida keluar. Bersamaan dengan mengecilnya rongga dada, udara dari kantung
udara masuk ke paru-paru dan terjadi pelepasan oksigen dalam pembuluh kapiler
di paru-paru. Jadi, pelepasan oksigen di paru-paru dapat terjadi pada saat
ekspirasi maupun inspirasi.
Ketika
burung terbang gerakan otot dada dapat mengganggu pengambilan oksigen oleh
paru-paru. Karena itu, selain dengan bernapas dengan paru-paru, pada saat
terbang burung bernapas dibantu dengan kantong udara (air sacs).
Kantong
udara mempunyai fungsi antara lain untuk membantu pernapasan pada waktu
terbang, membantu memperbesar ruang siring sehingga dapat memperkeras suara,
menyelubungi alat-alat dalam rongga tubuh hingga tidak kedinginan dan membantu
mencegah hilangnya panas badan yang terlalu besar.
Kecepatan Bernafas
Kecepatan
bernafas pada bangsa burung tergantung pada ukuran badan, seks, rangsangan, dan
berbagai faktor lain. Pada umumnya bangsa burung yang lebih kecil mempunyai
kecepatan (frekuensi) pernafasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang
lebih besar, misalnya pada bangsa unggas jantan seperti merpati, itik, angsa,
kalkun, dan anak ayam adalah 28, 42, 20, 28, dan 16 kali/menit secara
berturut-turut; sedangkan yang betina 16, 110, 40, 49, dan 28 secara
berturut-turut. Kecepatan bernafas bertambah bila suhu badan meningkat. Pada
anak ayam yang suhu badannya 43,5oC – 44,5oC , kecepatannya bisa mencapai 140 –
170 kali/menit
Pernafasan Selama Terbang
Persediaan
dan kecepatan oksigen (O2) berdifusi dalam paru-paru sangat penting artinya
burung pada waktu terbang. Pada waktu terbang konsumsi oksigen bisa 10 – 15
kali lebih banyak dibandingkan dengan pada keadaan istirahat. Konsumsi itu juga
tergantung pada kecepatan terbang. Pada kecepatan terbang 35 km/jam, oksigen
yang diperlukan rata-rata 21,9 ml/g/jam atau 12,8 kali lebih banyak
dibandingkan dengan keadaan tidak terbang, dan pada kecepatan terbang 40 km/jam
konsumsi oksigen 23ml/g/jam.
Konsumsi
oksigen paling tinggi pada waktu terbang menaik dan paling rendah pada waktu
terbang menurun. Beberapa peneliti mengasumsikan bahwa pernafasan (aliran udara
paru-paru) ada hubungan (sinkronisasi) dengan berbagai gerakan sayap pada waktu
terbang. Pada waktu sayap bergerak ke bawah, terjadi ekspirasi.
Inspirasi
: udara kaya oksigen masuk ke paru-paru. Otot antara tulang rusuk (interkosta)
berkontraksi sehingga tulang rusuk bergerak ke luar dan tulang dada membesar.
Akibatnya tekanan udara dada menjadi kecil sehingga udara luar yang kaya
oksigen akan masuk. Udara yang masuk sebagian kecil menuju ke paru-paru dan
sebagian besar menuju ke kantong udara sebagai cadangan udara.
Ekspirasi
: otot interkosta relaksasi sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi
semula. Akibatnya rongga dada mengecil dan tekanannya menjadi lebih besar dari
pada tekanan udara luar. Ini menyebabkan udara dari paru-paru yang kaya
karbondioksida ke luar.
Thursday, June 14, 2012
Kebutuhan energi burung merpati (columba livia) cukup banyak dan memiliki sistem pencernaan yang
optimal. Seekor burung merpati (columba
livia) mempergunakan energi 1 : 3 dari bobot tubuhnya. Sistem peredaran
burung juga telah diciptakan selaras dengan kebutuhan energi tinggi mereka. Burung
merpati (columba livia) memperlihatkan
efisiensi yang tinggi secara meyakinkan dalam pemanfaatan energi dibandingkan
hewan menyusui.
Sistem pencernaan pada burung merpati (columba livia) terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan.
a. Saluran pencernaan, merupakan saluran memanjang mulai dari
mulut dan berakhir pada kloaka. Saluran pencernaan burung terdiri dari mulut
(berupa paruh kerongkongan, tembolok, lambung kelenjar, lambung pengunyah
(empedal), usus halus, usus besar dan kloaka.
b. Kelenjar pencernaan, terdiri dari hati dan pankreas.
Kelenjar pencernaan ini menghasilkan getah yang mengandung enzim, yang penting
untuk pencernaan secara kimiawi.
Mekanisme
sistem pencernaan burung merpati (columba
livia) antara lain:
Mulut/paruh
-> Kerongkongan -> Tembolok -> Lambung kelenjar -> Lambung
pengunyah -> Hati -> Pankreas
-> Usus halus -> Usus besar -> Usus buntu -> Porosusus (rectum)
-> Kloaka.
Proses pencernaan makanan pada burung merpati (columba livia) antara lain makanan
burung diambil dengan paruh, kemudian masuk ke rongga mulut, dalam mulut burung
terdapat lidah yang kaku, serta tidak ditemukan gigi, makanan masuk ke kerongkongan,
selanjutnya masuk ke dalam tembolok. Pada tembolok makanan disimpan untuk
sementara, kemudian masuk ke lambung kelenjar. Lambung kelenjar banyak
menghasilkan getah pencernaan yang mengandung enzim, dari lambung kelenjar
makanan menuju ke lambung pengunyah (empedal). Pada bagian ini makanan dicerna
secara mekanik. Jika di dalam empedal ditemukan kerikil, itu berfungsi untuk
membantu pencernaan makanan secara mekanik.
Dari empedal, makanan masuk ke usus halus. Usus halus
terdiri dari usus duabelas jari, usus kosong dan usus penyerapan. Usus duabelas
jari berbentuk huruf U. Pada lekukannya, terdapat kelenjar pankreas. Getah
kelenjar pankreas dialirkan ke usus duabelas jari. Pada usus ini, juga bermuara
saluran empedu yang mengalirkan getah empedu dari kantung empedu di hati. Pada
burung merpati (columba livia)
kantung empedu ini tidak ditemukan. Pada burung pemakan biji, usus halusnya
panjang, sedang pada burung pemakan daging (ikan), usus halusnya relatif
pendek. Pada usus halus ini terjadi penyempurnaan pencernaan. Selanjutnya
sari-sari makanan diserap oleh jonjot usus. Pada jonjot usus ini banyak
terdapat pembuluh-pembuluh darah.
Sisa makanan yang tidak tercerna membentuk feses (tinja).
Tinja akan menuju ke usus besar dan akhirnya keluar lewat kloaka. Kloaka adalah
muara dari saluran pencernaan, saluran kencing dan saluran alat
perkembangbiakan. Antara usus halus dan usus besar terdapat sepasang usus
buntu.
Subscribe to:
Posts (Atom)





