Showing posts with label Laboratorium. Show all posts
Showing posts with label Laboratorium. Show all posts

Friday, January 24, 2014

A.   Pendahuluan
Proses PCR merupakan proses siklus yang berulang, meliputi denaturasi, annealing, dan ekstensi oleh enzim DNA polymerase. Taq DNA polymerase diisolasi dari bakteri Thermus aquaticus (Taq) dikembangkan pada tahun 1988. Enzim ini tahan sampai suhu mendidih 100oC, dan aktivitas maksimalnya pada suhu 70-72oC. sepasang primer oligonukelotida yang spesifik digunakan untuk membuat hybrid dengan ujung-5’ menuju ujung-3’ untai DNA target dan mengamplifikasi untuk urutan yang diinginkan.
Dasar siklus PCR yang utama merupakan siklus berulang 30-35 siklus, meliputi :
Denaturasi (95oC), 30 detik. Pada langkah ini, heliks ganda DNA terurai menjadi dua untai cetakan DNA tunggal.
Annealing (55-60oC), 30 detik. Pada langkah ini terjadi proses pengenalan/penempelan primer cetakan DNA, suhu annealing ditentukan oleh susunan primer. Optimalisasi suhu annealing dimulai dengan menghitung melting temperature (Tm) dari ikatan primer dan cetakan DNA, sedangkan suhu annealing (TA) adalah 5oC lebih kecil dari Tm primer sebenarnya.
Ekstensi (72oC). pada langkah ini terjadi polimerisasi untuk pembentuk untai DNA baru. Waktu yang dibutuhkan tergantung panjang pendeknya ukuran DNA yang digandakan sebagai produk amplifikasi.

B.   Kesimpulan

Penambahan jumlah DNA dengan proses invitro, untuk memperkuat satu atau beberapa salinan dari bagian DNA beberapa kali lipat, menghasilkan ribuan sampai jutaan salinan urutan DNA tertentu. 

A.    Pendahuluan
Komponen utama kromosom pada eukariota adalah DNA dan protein histon. Protein histon ini bersifat basa, sehingga dapat menetralkan sifat asam dari DNA. Pada dasarnya sel mengandung dua asam nukleat, yaitu RNA dan DNA.
DNA (asam deoksiribonukleat) dan RNA (asam ribonukleat) merupakan sebuah polimer dari nukleotida. Nukleotida terdiri dari gula pentosa, basa nitrogen dan fosfat. Nukleotida tanpa fosfat disebut nukleosida. Gula pentosa penyusun RNA adalah ribosa, sedangkan pada DNA berupa deoksiribosa yang merupakan ribosa yang kehilangan satu atom oksigennya. Basa nitrogen pada nukleotida dapat berupa purin dan pirimidin. Basa purin yaitu adenin (A) dan guanin (G), sedangkan pada pirimidin berupa sitosin (C), Timin (T), dan Urasil (U). Pada DNA, pirimidin hanya berupa sitosin dan timin, sedangkan pada RNA, basa timin diganti oleh urasil. Purin dan pirimidin ini merupakan komplementer dengan pasangan adenin – timin atau urasil (pada RNA) dan guanin – sitosin.
Isolasi DNA merupakan tahap pertama dari berbagai teknologi analisis DNA. DNA dapat ditemukan baik pada kromosom inti maupun pada organel, yaitu pada mitokondria. Untuk mengekstrak DN, diperlukan langkah-langkah laboratorium untuk memecahkan membran inti, yang dilanjutkan dengan pemisahan DNA dari berbagai komponen sel yang lain. Pada saat melakukannya, DNA harus dijaga agar tidak rusak dan didapatkan DNA dalam bentuk rantai yang panjang.

B.   Tujuan
Untuk mengetahui cara isolasi DNA serta bentuk dan struktur DNA.

C.   Prinsip Kerja
Untuk melihat DNA, dapat menggunakan metode isolasi yaitu dengan memisahkan DNA dengan komponen-komponen lain, diawali dengan cara menghancurkan membran inti atau nukleolus.

D.  Alat dan Bahan
Alat
Eppendorf tube
Micro pipet
Sentrifugasi
Vortex
Inkubator
Bahan
100 µl amonium asetat 5 M
300 µl cell lysis soution
300 µl darah
300 µl isopropanol
1000 µl RBC lysis solution
1,5 µl RNAse

E.   Prosedur
1)    Masukkan 300 µl darah dan 1000 µl RBC lysis solution ke dalam tabung reaksi.
2)   Kocok pelan, inkubasi 10 menit pada suhu ruangan.
3)    Centrifuge pada 14.000 rpm selama 1 menit.
4)   Buang supernatan yang berisi eritrosit, sehingga yang tersisa hanya endapan leukosit.
5)    Tambahkan 1000 µl RBC lysis solution pada tabung yang berisi endapan leukosit, ulangi langkah 2, 3, dan 4, hingga supernatan benar-benar terbuang.
6)    Tambahkan 300 µl cell lysis solution pada endapan leukosit dan vortex hingga larutan menjadi homogen.
7)   Tambahkan 1,5 µl RNAse, kemudian vortex dan inkubasi pada suhu 370C dalam waterbath selama 15 menit.
8)    Tambahkan 100 µl amonium asetat 5 M, kemudian vortex hingga larutan mirip susu.
9)    Centrifuge pada 14.000 rpm selama 3 menit.
10) Pindahkan supernatan yang berisi DNA pada tabung yang berisi 300 µl isopropanol.
11)  Kocok pelan 10-20 kali sampai endapan DNA terlihat.

F.    Hasil
DNA dapat terlihat setelah percobaan, ditunjukkan dengan adanya untaian benang berwarna putih dalam larutan percobaan.


G.  Kesimpulan

Untuk melihat DNA dapat dilakukan isolasi DNA, yang pertama dengan penambahan larutan RBC lysis yang membuat eritrosit pecah dan terpisah dengan leukosit dan komponen lainnya, kemudian penambahan larutan lisis sel untuk memecah leukosit. Maka, komponen penyusun leukosit akan terurai, termasuk inti selnya. Kemudian penambahan RNAse untuk melisiskan RNA, maka akan didapat DNA dan protein-protein lain. Selanjutnya penambahan amonium asetat untuk mengendapkan protein-protein lain selain DNA, maka supernatan yang berisi DNA akan terpisah dari endapan yang mengandung protein-protein lain. Kemudian supernatan yang berisi DNA ditambahkan isopropanol untuk melihat DNA lebih jelas dan nyata. Ini menunjukkan bahwa dalam sel manusia terdapat DNA.

Tujuan
Melihat struktur sel darah dengan mikroskop cahaya

Cara kerja
1.       Letakkan peparat pada stage mikroskop
2.       Nyalakan sumber cahaya
3.       Pasang lensa objektif pada pembesaran 4x
4.       Atur fokus dengan coarse adjustment (makrometer)
5.       Setelah mendapatkan fokus, pindahkan lensa objektif pada pembesaran 10x
6.       Atur ulang fokus dengan coarse adjusment (makrometer)
7.       Setelah mendapatkan fokus, pindahkan pada pembesaran 40x
8.       Atur fokus dengan fine adjustment (mikrometer) dan jangan atur lagi dengan makrometer
9.       Setelah mendapatkan fokus, pindahkan lensa objektif pada pembesaran 100x
10.  Berikan minyak emersi pada preparat untuk memberikan fokus yang lebih jelas
11.  Amati dan cari macam-macam sel darah
12.  Gambarkan hasilnya.

Tujuan
Mengetahui ketahanan sel darah merah terhadap beberapa larutan (NaCl) yang berbeda-beda konsentrasinya dan mengetahui proses hemolisis, baik initial hemolytic maupun complete hemolytic.

Prinsip
Larutan hipotonis dalam percobaan ini yaitu larutan NaCl akan membuat eritrosit lisis pada konsentrasi tertentu baik itu lisis sedikit, separuhnya, ataupun keseluruhannya. Ada tidaknya hemolisis sangat efektif untuk mengukur kepekaan eritrosit terhadap cairan hipotonis dan dapat menegakkan diagnosis dari hemolytic anemia.

Bahan 
1)       12 tabung reaksi, 75mm
2)     dua buah 5ml serologic pipet
3)       satu  buah pipet 3 ml
4)     darah sampel
5)       larutan NaCl 1%
6)      aquades

Prosedur 
1)       Siapkan 12 tabung reaksi
2)     Beli label berupa nomor pada masing-masing tabung
 3)   Masukan larutan NaCl 1% dan aquades pada tiap tabung berdasarkan tabel berikut :


Tube
1% NaCl (mL)
Distilled water
NaCl%
1
4,25
0,75
0,85
2
3,3
1,50
0,70
3
3,25
1,75
0,65
4
3,00
2,00
0,60
5
2,75
2,25
0,55
6
2,5
2,5
0,50
7
2,25
2,75
0,45
8
2,00
3,00
0,40
9
1,75
3,25
0,35
10
1,50
3,50
0,30
11
1,25
3,75
0,25
12
0,75
4,25
0,15

4)     Setelah dimasukan kedua zat tersebut lalu dikocok
5)       Masukkan 50 mL darah pada setiap tabung menggunakan mikropipet.
6)      Diamkan pada suhu ruangan selama 30 menit
7)      Masukkan tabung untuk disentrifuge pada kecepatan 2000rpm selama 5 menit
8)      Amati hasil hemolisis pada 12 tabung

Hasil
Didapatkan dalam percobaan kami bahwa sel mulai lisis pada tabung nomor 8 dengan ditandai cairan yang berwarna kuning dan pada tabung reaksi nomor 12 mengalami lisis total ditandai dengan tidak adanya endapan dan cairan berwarna merah seluruhnya. Adapun hasil setiap tabungnya sebagai berikut.
Nomor Tabung
Konsentrasi NaCl%
Hasil
Hemolisis
1
0.85
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
2
0.70
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
3
0.65
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
4
0.60
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
5
0.55
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
6
0.50
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
7
0.45
Sel darah merah mengendap di permukaan tabung dan cairan berwarna putih
Tidak
8
0.40
Sel darah merah mengendap dan cairan berwarna kuning
Mulai lisis
9
0.35
Sel darah merah mengendap dan cairan berwarna kuning
Mulai lisis
10
0.30
Sel darah merah mengendap dan cairan berwarna kuning
Mulai lisis
11
0.25
Sel darah merah mengendap dan cairan berwarna kuning
Mulai lisis
12
0.15
Tidak ada endapan dan seluruh cairan berwarna merah
Lisis total

Kesimpulan
Darah sampel normal, tidak terdeteksi adanya hemolytic anemia karena hemolysis mulai terjadi pada konsentrasi 0.40 yaitu masih dalam batas normal. Apabila positif anemia hemolitik maka akan mulai terjadi hemolysis pada konsentrasi 0.65
Tabung 1-6 tidak terjadi hemolisis,hanya pengendapan (pada penderita hereditary spherocytosis, darah pada tabung ketiga sudah mulai lisis.)

Aybsth. Powered by Blogger.